Wednesday, January 27, 2010

Angkasa Raya Binar

Berbicara dengan bahasa ranum di tengah lembah

Mendaki puncak asing yang tersembunyi alam liar

Harum itu asing

Bayangan itu sembari mengabur

Sesaat lagi binasa

Hanya tersisa dua mata asing saling menatap

 

Labels:

Wednesday, November 18, 2009

Rock n ' roll pura-pura

--------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------


Kamu hanya berpura-pura
Tercekat dalam pusaran yang sudah menua
Berputar dalam tornado rasa
Menghajar dengan kata-kata luar biasa

Kamu hanya berpura-pura
Menggali liang kubur dan menyiapkan peti
Menarik sekuat tenaga leher yang tercekik tali
Berdiri di ujung niagara tempatmu menjatuhkan diri

Kamu hanya berpura-pura
Menenggak wishky dan vodka
Menusuk jarum dan menghirup ganja
Bersama lelaki berkutang senja

Kamu hanya berpura-pura
Menjadi batu
dan berguling-guling
melindas si malang Sisipus

Depok. Kantor ini sudah basi, aku terlalu lama di sini. 18 Nov 09

Labels: , ,

Tuesday, November 10, 2009

Laba-Laba

Dan aku pun meniti rintik dan pelik (dia berbahaya)
Mereka menguntit di balik tirai rindu (dia berbahaya)
Satu demi satu belati menebasnya (wajahmu berserakan di sana)
Satu demi satu menari berpuisi (ku tak berbicara)

Selesai sudah tak ada lagi cara berkuasa
Tak guna mencari genggam kabut berudara

Laba-laba saling beruntai
Mati setelah berbangkai
Tak kubiarkan kau menjeratku
Dengan jaring yang kau rangkai

Labels: , , , , , ,

Friday, October 23, 2009

My all time favorite poem about death

Back then when I was in my fourth semester. I took poetry II class. We had to make a short theatrical performance inspired from poetries for our final project. My group chose the topic "Death" and we had to find poetries with "death" as the theme.

Then I found this American poem, and it became my all time favorite poem about death ever since. Rereading this poem after 4 long years, it still evoke some absurd emotions; emotions that you had when you lost someone you really care about -trying to let go, but you know it will always be difficult.

I secretly wish - one day when my time comes. I'd like this poem to be engraved on my tombstone. Or I'd like someone very dear to me to read it on my funeral. That is my one and only will... :-)


Do Not Stand at My Grave and Weep 

Do not stand at my grave and weep,
I am not there, I do not sleep.
I am in a thousand winds that blow,
I am the softly falling snow.
I am the gentle showers of rain,
I am the fields of ripening grain.
I am in the morning hush,
I am in the graceful rush
Of beautiful birds in circling flight,
I am the starshine of the night.
I am in the flowers that bloom,
I am in a quiet room.
I am in the birds that sing,
I am in each lovely thing.
Do not stand at my grave and cry,
I am not there. I do not die.

by Mary Elizabeth Frye (original version)

http://en.wikipedia.org/wiki/Do_not_stand_at_my_grave_and_weep

Labels: ,

Goblin Market

We must not look at goblin men,
We must not buy their fruits:
Who knows upon what soil they fed
Their hungry thirsty roots?


Excerpt from Goblin Market, a poem by Christina Rossetti.
(composed in April 1859 and published in 1862)

Labels:

Tuesday, September 29, 2009

Kursi Listrik

Tertusuk dan tersentuh
Hanya ketika mata berseberangan
Kala bayangpun raib dalam terang bulan sabit
Dan kita terkunci pada kursi listrik masing-masing
Tak lagi terdengar, jerit bernama birahi itu
Aku bertanya-tanya, seperti juga dirinya
Lalu akan ada satu dua mata
Yang merasa semua kata tertuju pada ladang sepi mereka
Betapa salah. Betapa lelah
Ada indah saat membungkus cerita
Dengan kotak rahasia

Dpk, 29 09 09

Labels:

Tuesday, July 21, 2009

minimal...

petak itu tidaklagi hitam putih
di sela-selanya selalu ada merah
yang berbau amis seperti darah

kota itu tidak lagi bingar
di antaranya selalu ada bisik
yang mencuri berisik
dan menelannya dengan cantik

bahasa itu tidak lagi berucap
di antar katanya selalu ada sedak
yang merangkai terbata-bata
dan menghancurkan rangkaian bicara

ledak itu tidak lagi mengejutkan
mungkin karena kita bukan lagi pion catur
yang digerakkan tangan-tangan setan
maupun tangan tuhan

namun semesta masih ajaib seperti biasanya
minimal untuk hari ini

Labels: ,

Friday, May 15, 2009

tenggelam

tenggelam dalam posisi miring
kuda kuda berkeliaran
tidak jelas ini subuh atau pagi
mengurak menelerobos
siapa wajah-wajah yang berkelebatan
kau kira mereka hantu dan roh roh berkeliaran
kau kira aku bagai gila
seleruput dalam kemabukkan
semakin aku tenggelam dalam posisi temerayap
dan hitam menjadi menggelagap bagai tak bisa memegang landasan yang gegabah
apa yang dicari hanyut itu
hilir hulu tiada berbeda
tokh pada akhirmya mereka melesat menerobos posi-posi termungil
cari akal cari arah
untuk satu dua yang sudah hanyut dalam pusaran
hijau jingga
 kuning dan ungu

Labels: ,

Saturday, May 02, 2009

Menari

Pijar pagi itu menggempita di ufuk lelap
Seperti para pujangga yang kehabisan kata pada penanya
Ajaib seperti ledakan-ledakan aurora
Kelak kita bertanya, dimana semua akan bersanggah
Wahai gadis, mungil jemarimu nanti kan berbuat megah
Merobek langit yang nian merah
Membuka warna baru tak bernama
Ini dunia yang harus kau jaga, atau kau perindah kelak
Sampai tiba saat kau kecup
Tarian-tarian langit dan bumi yang mencipta raga
Siulan-siulan rongga angkasa yang mencipta jiwa
Ajaib memang, arus yang membawa kita kemana
Ajaib memang, musik yang membuatmu menari

Sakura, 2 April '08
*A birthday gift to Shakuntala

Labels:

Thursday, February 26, 2009

Tulisku pada status di facebook...

Teraya membiarkan angin bertiup menembus ubun-ubun di kepalanya yang sedang kosong...

 

dan pada multiply kutambahkan...

 

 

Datanglah para pecandu

Rasukilah aku seperti dulu

Bisikilah dengan dusta-dustamu yang biasa ku telan hingga tenggelam ke dalam waktu

Ajari jemariku menari dengan lihai, seperti bibirku dalam mengecup kepahitan

Bawa aku pada tandu kematian

Membelah lidah api seperti terbelahnya laut hitam

Palung-palung itu begitu dingin, begitu nyaman

Tempatku bersarang pada sebuah dimensi

Dimana hanya aku dan tuhanku yang mengerti

Aku merindu melangkah seorang diri

Bersandar pada angin dan semesta

Menjadi anak alam penangkal malapetaka

Datanglah para pecandu

Rasukilah aku seperti dulu

Tanpa dunia semaya kasat mata

Bisa apa aku?

Terbatas pada kata

 

Depok, 26 Feb 2009

Labels: , , , , , , ,

Wednesday, February 25, 2009

Surat

Kupertaruhkan nyawaku di atas sebuah surat

Tertulis oleh tinta darah

Barang siapa membuatnya pecah

Bersiaplah untuk melarat

 

Kupertaruhkan nyawaku tertoreh pada secarik surat

Tertulis oleh air mani

Barang siapa membuatnya retak

Bersiaplah untuk diarak

 

Kupertaruhkan nyawaku pada selembar surat

Tertulis oleh basa-basi

Barang siapa membuatnya hangus

Bersiaplah untuk pupus

 

Akte kelahiran, kartu keluarga, kartu tanda pengenal, buku rekening bank, raport sekolah dan ijazah sarjana

Lalu kontrak kerja, surat tanah dan surat pengakuan hutang

Kemudian surat nikah dan akte kelahiran untuk anak-anakku

 

Apalah arti beberapa surat

Bagi sebuah rangkaian kehidupan?

 

Depok, 25 Feb 09

Labels: , ,

Friday, February 20, 2009

Nama

Mudah-mudahan engkau tidak keberatan
Sudah terukir sebuah mana untukmu
Yang akan membingkaimu sepanjang hidupmu
Dan jangan salahkan aku atas namamu
Aku hanya mengukir
Engkaulah yang menjadi kurator
Memberi definisi pada ukiranmu
Memberi definisi pada dirimu, dan namamu
Suatu saat nanti, engkau pun yang akan mendefinsikan aku
Menjadi kurator akan diriku
Bahkan mereparasi warna-warna yang usang
Seperti yang pernah kulakukan pada ibu yang mengandung diriku
Seperti yang dilakukan ibu yang mengandung diriku kepadaku

Mudah-mudahan engkau tidak keberatan
Akan kujadikan kau ibu bumi
Tanah untuk dipijak anak-anakmu kelak
Untuk kau tumbuhkan pepohonan dan kehidupan
Sama seperti aku dan namaku
Yang terbingkai seumur hidupku
Yang telah mendefinisikan aku
dan terdefinisi olehku

Mari kita bertemu akar dan mata
Tepat di ujung dunia
Mengukir nama kita pada kaki langit
Menjadikannya sebuah singgasana
Di sana
bertapalah kita
dan bertukar nama

Depok, 20 Februari 2009

Labels: ,

Iri...

Aku iri pada mereka yang mempu menelurkan nyawa

Dan membiarkan mimpi indah kembali terlukis di langit

Membiarkan tawa mungil menjadi pelita

Yang tak ada habisnya terbakar masa

 

Aku iri pada mata-mata yang berbinar

Yang melihat keajaiban-keajaiban dunia

Pada detik pertama

Kaki penapak udara

 

Aku iri pada masaku

yang tergaris oleh lika-liku tak tergenggam

Membakar pendosa menjadi abu

Menghukum malaikat yang terjatuh ke bumi

 

Aku iri pada bibir yang berbicara hanya satu bahasa

Bahasa pertama manusia

Bahasa kasih madonna

Labels: ,

Friday, January 30, 2009

hangat

bosankah kita pada kecup demi kecup?
dan titik G tidak lagi gegap gempita?
tetapi bara ini cukup panasnya
sekedar menghangatkan
menebar aroma melaparkan

Labels:

belajar menulis puisi

melati mengepakkan sayapnya
diantara candi-candu yang saling bermekaran
sementara warna-warni dalam pelangi bercampur-baur menjadi satu
berfusi menantang awan-awan
yang melompat-lompat seperti srikandi kijang

aku belajar melukis puisi
seperti bayi menulis kisah dalam ruang pagarnya
engkau buta membaca puisi
seperti kerbau yang tercucuk matanya
tersesat diantara darah
kebas akan artinya indah

bekasi, 30 jan 2009

Labels:

Thursday, January 29, 2009

Big Fat Love

You say “I”

I say “You”

Never say goodbye

And I don’t want any clue

 

Your big fat arms are my shelter

Your big fat tummy is my pillow

Nothing can make m any better

But my stars that glow

 

You say “I”

I say “you”

We kiss the sky

And chuck out our blue

 

In the strawberry field we lay

Water-coloring the clouds is what we do

All I want to say is “Happy Birthday!”
And same old “I love you…”

 

XOXO,

Thera

Margonda, 29 January 2009

 

Happy 33th birthday, dear... :-*

 

Labels:

Saturday, January 03, 2009

Mereka Tidak Pernah Bilang

Dulu, ketika aku masih kanak-kanak
Tidak ada satu orang pun bilang padaku
Setelah Upik Abu menikah dengan Sang Pangeran rupawan
Dia tak lebih dari sekedar pembantu di istana
Yang harus melahirkan anak laki-laki tiap tahunnya

Tidak ada yang bilang juga
Kalau Snow White sebenarnya punya tato naga di pantatnya
Dan di malam bulan pernama dia menjilati penis-penis kecil para kurcaci
Satu per satu... sampai mereka mimpi basah bau bacin

Masih ada banyak rahasia
Salah satunya adalah mimpi Putri Salju
Yang selama tidurnya meracau mantra-mantra pemecah dunia
Efek samping dari sihir ibu tiri yang iri hati
Yang kini membuka kotak pandora bagi Israel dan Palestina

Yang mereka tidak pernah bilang; justru...
Calon Arang dan Medusa adalah ratu-ratu yang sebenarnya
Dengan perih dan sedih mereka teraniaya
Dengan mata dan kata mereka mencintai dunia

Labels: , ,

Thursday, January 01, 2009

Guci Dari Ibu

Meniti aku pada guci itu. Guci yang pernah diberikan ibu. Bentuknya bulat dan kecil. Warna dan rasanya bisa berubah-ubah. Kadang dingin dan biru, kadang panas dan merah. Bahkan, sering dia putih dan membeku. Sayang dia hanya punya satu bau. Bau lendir vagina dari dalam rongganya. Ini nak, harap kau terima, katanya waktu itu. Hitunglah jumlah goresan dan retakan, dan jaga agar ia tidak pernah pecah.

Maka kujaga guci itu dengan baik. Kuhitung setiap gores yang selalu bertambah. Satu demi satu. Entah itu karena kukuku yang terlalu runcing atau memang lapisan cat yang kian melapuk.

Namun goresan dan retakkan itu terus bertambah. Bertambah dan bertambah hingga aku lupa berapa jumlahnya. Kalau ibu tahu, dia masti marah. Siapa yang sangka, ternyata aku cinta guratan-guratan pada guci ku. Retak dan gores tidak menoda atau merusak. Retak dan gores membuatnya tampak seperti lukisan. Aku bisa menebak-nebak bentuk yang dibuatnya seperti aku menebak-nebak pada kumulus yang mendayung di langit. Apakah itu kelinci atau kuda nil atau Jack O' Lantern yang sedang bercakap-cakap dengan Mr.Death. 
Terkadang, melalui retakan dan goresan itu, aku lihat wajah orang-orang yang namanya aku sudah lupa.

Aku bisa membayangkan, pada suatu hari ibu akan menjerit nyaring dengan suaranya yang melengking, Nak, kau apakan guci itu!? Kenapa tampak menjijikan seperti itu!? Dan aku berencana untuk menjawab, Ibu, lihat dengan baik. Cantik sekali bukan? Ada ratusan, bahkan ribuan gambar dan lukisan yang terbentuk di situ! Gunakan imajinasimu, dan kau bisa melihat apa saja!

Aku biarkan guci itu terus meretak dan menggores dengan sendirinya. Mungkin memang itu yang diinginkan si guci. Si guci ingin tubuhnya dipenuhi lukisan dan guratan, agar tampak dia seperti sesuatu yang hidup dalan tangis dan tawa.

Entah apa reaksi ibu nanti. Biar saja. Tokh guci itu tidak sepenuhnya polos dan mengkilap saat diberikan ibu. Dia memang sudah retak dan penuh goresan sejak kali pertama aku melihatnya.

Suatu hari, meniti aku pada guci itu, dan kutemukan sebuah retakan yang tampak begitu dalam. Membentuk jurang kecil pada sebuah sudut di muara lubang. Kusentuh, ingin kuobati. Siapa tahu aku bisa menutup jurang itu.

Tapi sang guci membelah diri. Menjatuhkan sekeping beling dari tubuhnya. Kini dia tidak hanya retak dan bergores. Dia juga cacat.

Apa kata ibu nanti?

Biar saja. Tokh kini guci itu menurutku tampak lebih menarik. Bentuknya yang asimetris membuatnya tampak unik.
Bau nya pun berubah.
Tak lagi bau vagina, sekarang dia harum vagina.

Bekasi, Tahun Baru 2009
(*Mungkin tahun ini gue harus lebih banyak nulis...)

Labels: , ,

2009

Kalau ku kecup bulan dan bintang milikmu
Sudikah engkau memberikan aku langit?
Lalu akan aku buat waktu berhenti berdetik
Selamanya terjaga
Dan kita tidak akan pernah tua

Labels: ,

Saturday, December 27, 2008

subuh kini

subuh kini
jemari sang matahari menggelitik di ujung
saatnya pagi menyambung

di ruang ini bau langit
dan aroma usia yang tinggal sedikit

tapi aku masih ingin sekarang tetap malam
agar puas kupeluk perih dan kebutaan

pelan-pelan kujahit gelap
menjadi tenda tempatku terlelap
biar saja, biar nanti hidup yang akan berbicara
kemana mereka isengi lampu kecil yang kian redup ini
jawab dan rasa

subuh kini
belasan jam aku terjaga
dari tawa hingga ruang hampa

Labels: ,