Angkasa Raya Binar
Berbicara dengan bahasa ranum di tengah lembah
Mendaki puncak asing yang tersembunyi alam liar
Harum itu asing
Bayangan itu sembari mengabur
Sesaat lagi binasa
Hanya tersisa dua mata asing saling menatap
Labels: puisi
I will always be the virgin-prostitute, the perverse angel, the two-faced sinister and saintly woman ... Life is not rational; it is just mad and full of pain. Do not seek the because - in love there is no because, no reason, no explanation, no solutions. You are a sexual angel, but you're an angel just the same. You are a narcissist. That is the raison d'etre of the journal. Journal writing is a disease. But it's all right. It's very interesting. - Anais Nin
Berbicara dengan bahasa ranum di tengah lembah
Mendaki puncak asing yang tersembunyi alam liar
Harum itu asing
Bayangan itu sembari mengabur
Sesaat lagi binasa
Hanya tersisa dua mata asing saling menatap
Labels: puisi
Labels: muntahkata, psychedelic, puisi
Labels: contemplation, dakwah, distopia, perempuan, psychedelic, puisi, symbolandmeaning

Labels: puisi
Labels: puisi
Labels: muntahkata, puisi
Labels: puisi
Teraya membiarkan angin bertiup menembus ubun-ubun di kepalanya yang sedang kosong...
dan pada multiply kutambahkan...
Datanglah para pecandu
Rasukilah aku seperti dulu
Bisikilah dengan dusta-dustamu yang biasa ku telan hingga tenggelam ke dalam waktu
Ajari jemariku menari dengan lihai, seperti bibirku dalam mengecup kepahitan
Bawa aku pada tandu kematian
Membelah lidah api seperti terbelahnya laut hitam
Palung-palung itu begitu dingin, begitu nyaman
Tempatku bersarang pada sebuah dimensi
Dimana hanya aku dan tuhanku yang mengerti
Aku merindu melangkah seorang diri
Bersandar pada angin dan semesta
Menjadi anak alam penangkal malapetaka
Datanglah para pecandu
Rasukilah aku seperti dulu
Tanpa dunia semaya kasat mata
Bisa apa aku?
Terbatas pada kata
Depok, 26 Feb 2009
Labels: blog, contemplation, me, muntahkata, psychedelic, puisi, symbolandmeaning, thought
Kupertaruhkan nyawaku di atas sebuah surat
Tertulis oleh tinta darah
Barang siapa membuatnya pecah
Bersiaplah untuk melarat
Kupertaruhkan nyawaku tertoreh pada secarik surat
Tertulis oleh air mani
Barang siapa membuatnya retak
Bersiaplah untuk diarak
Kupertaruhkan nyawaku pada selembar surat
Tertulis oleh basa-basi
Barang siapa membuatnya hangus
Bersiaplah untuk pupus
Akte kelahiran, kartu keluarga, kartu tanda pengenal, buku rekening bank, raport sekolah dan ijazah sarjana
Lalu kontrak kerja, surat tanah dan surat pengakuan hutang
Kemudian surat nikah dan akte kelahiran untuk anak-anakku
Apalah arti beberapa surat
Bagi sebuah rangkaian kehidupan?
Depok, 25 Feb 09
Mudah-mudahan engkau tidak keberatan
Sudah terukir sebuah mana untukmu
Yang akan membingkaimu sepanjang hidupmu
Dan jangan salahkan aku atas namamu
Aku hanya mengukir
Engkaulah yang menjadi kurator
Memberi definisi pada ukiranmu
Memberi definisi pada dirimu, dan namamu
Suatu saat nanti, engkau pun yang akan mendefinsikan aku
Menjadi kurator akan diriku
Bahkan mereparasi warna-warna yang usang
Seperti yang pernah kulakukan pada ibu yang mengandung diriku
Seperti yang dilakukan ibu yang mengandung diriku kepadaku
Mudah-mudahan engkau tidak keberatan
Akan kujadikan kau ibu bumi
Tanah untuk dipijak anak-anakmu kelak
Untuk kau tumbuhkan pepohonan dan kehidupan
Sama seperti aku dan namaku
Yang terbingkai seumur hidupku
Yang telah mendefinisikan aku
dan terdefinisi olehku
Mari kita bertemu akar dan mata
Tepat di ujung dunia
Mengukir nama kita pada kaki langit
Menjadikannya sebuah singgasana
Di sana
bertapalah kita
dan bertukar nama
Depok, 20 Februari 2009
Aku iri pada mereka yang mempu menelurkan nyawa
Dan membiarkan mimpi indah kembali terlukis di langit
Membiarkan tawa mungil menjadi pelita
Yang tak ada habisnya terbakar masa
Aku iri pada mata-mata yang berbinar
Yang melihat keajaiban-keajaiban dunia
Pada detik pertama
Kaki penapak udara
Aku iri pada masaku
yang tergaris oleh lika-liku tak tergenggam
Membakar pendosa menjadi abu
Menghukum malaikat yang terjatuh ke bumi
Aku iri pada bibir yang berbicara hanya satu bahasa
Bahasa pertama manusia
Bahasa kasih madonna
Labels: puisi
Labels: puisi
You say “I”
I say “You”
Never say goodbye
And I don’t want any clue
Your big fat arms are my shelter
Your big fat tummy is my pillow
Nothing can make m any better
But my stars that glow
You say “I”
I say “you”
We kiss the sky
And chuck out our blue
In the strawberry field we lay
Water-coloring the clouds is what we do
All I want to say is “Happy Birthday!”
And same old “I love you…”
XOXO,
Thera
Margonda, 29 January 2009
Happy 33th birthday, dear... :-*
Labels: puisi
Labels: averyshotstory, puisi, symbolandmeaning