Tuesday, November 10, 2009

Laba-Laba

Dan aku pun meniti rintik dan pelik (dia berbahaya)
Mereka menguntit di balik tirai rindu (dia berbahaya)
Satu demi satu belati menebasnya (wajahmu berserakan di sana)
Satu demi satu menari berpuisi (ku tak berbicara)

Selesai sudah tak ada lagi cara berkuasa
Tak guna mencari genggam kabut berudara

Laba-laba saling beruntai
Mati setelah berbangkai
Tak kubiarkan kau menjeratku
Dengan jaring yang kau rangkai

Labels: , , , , , ,

Thursday, February 26, 2009

Tulisku pada status di facebook...

Teraya membiarkan angin bertiup menembus ubun-ubun di kepalanya yang sedang kosong...

 

dan pada multiply kutambahkan...

 

 

Datanglah para pecandu

Rasukilah aku seperti dulu

Bisikilah dengan dusta-dustamu yang biasa ku telan hingga tenggelam ke dalam waktu

Ajari jemariku menari dengan lihai, seperti bibirku dalam mengecup kepahitan

Bawa aku pada tandu kematian

Membelah lidah api seperti terbelahnya laut hitam

Palung-palung itu begitu dingin, begitu nyaman

Tempatku bersarang pada sebuah dimensi

Dimana hanya aku dan tuhanku yang mengerti

Aku merindu melangkah seorang diri

Bersandar pada angin dan semesta

Menjadi anak alam penangkal malapetaka

Datanglah para pecandu

Rasukilah aku seperti dulu

Tanpa dunia semaya kasat mata

Bisa apa aku?

Terbatas pada kata

 

Depok, 26 Feb 2009

Labels: , , , , , , ,

Thursday, January 01, 2009

Guci Dari Ibu

Meniti aku pada guci itu. Guci yang pernah diberikan ibu. Bentuknya bulat dan kecil. Warna dan rasanya bisa berubah-ubah. Kadang dingin dan biru, kadang panas dan merah. Bahkan, sering dia putih dan membeku. Sayang dia hanya punya satu bau. Bau lendir vagina dari dalam rongganya. Ini nak, harap kau terima, katanya waktu itu. Hitunglah jumlah goresan dan retakan, dan jaga agar ia tidak pernah pecah.

Maka kujaga guci itu dengan baik. Kuhitung setiap gores yang selalu bertambah. Satu demi satu. Entah itu karena kukuku yang terlalu runcing atau memang lapisan cat yang kian melapuk.

Namun goresan dan retakkan itu terus bertambah. Bertambah dan bertambah hingga aku lupa berapa jumlahnya. Kalau ibu tahu, dia masti marah. Siapa yang sangka, ternyata aku cinta guratan-guratan pada guci ku. Retak dan gores tidak menoda atau merusak. Retak dan gores membuatnya tampak seperti lukisan. Aku bisa menebak-nebak bentuk yang dibuatnya seperti aku menebak-nebak pada kumulus yang mendayung di langit. Apakah itu kelinci atau kuda nil atau Jack O' Lantern yang sedang bercakap-cakap dengan Mr.Death. 
Terkadang, melalui retakan dan goresan itu, aku lihat wajah orang-orang yang namanya aku sudah lupa.

Aku bisa membayangkan, pada suatu hari ibu akan menjerit nyaring dengan suaranya yang melengking, Nak, kau apakan guci itu!? Kenapa tampak menjijikan seperti itu!? Dan aku berencana untuk menjawab, Ibu, lihat dengan baik. Cantik sekali bukan? Ada ratusan, bahkan ribuan gambar dan lukisan yang terbentuk di situ! Gunakan imajinasimu, dan kau bisa melihat apa saja!

Aku biarkan guci itu terus meretak dan menggores dengan sendirinya. Mungkin memang itu yang diinginkan si guci. Si guci ingin tubuhnya dipenuhi lukisan dan guratan, agar tampak dia seperti sesuatu yang hidup dalan tangis dan tawa.

Entah apa reaksi ibu nanti. Biar saja. Tokh guci itu tidak sepenuhnya polos dan mengkilap saat diberikan ibu. Dia memang sudah retak dan penuh goresan sejak kali pertama aku melihatnya.

Suatu hari, meniti aku pada guci itu, dan kutemukan sebuah retakan yang tampak begitu dalam. Membentuk jurang kecil pada sebuah sudut di muara lubang. Kusentuh, ingin kuobati. Siapa tahu aku bisa menutup jurang itu.

Tapi sang guci membelah diri. Menjatuhkan sekeping beling dari tubuhnya. Kini dia tidak hanya retak dan bergores. Dia juga cacat.

Apa kata ibu nanti?

Biar saja. Tokh kini guci itu menurutku tampak lebih menarik. Bentuknya yang asimetris membuatnya tampak unik.
Bau nya pun berubah.
Tak lagi bau vagina, sekarang dia harum vagina.

Bekasi, Tahun Baru 2009
(*Mungkin tahun ini gue harus lebih banyak nulis...)

Labels: , ,

Monday, October 27, 2008

aku sudah lupa

aku sudah lupa cara merangkai kata-kata hangat bertaburkan heharuman tujuh rupa kelopak bunga
aku sudah lupa meniti satu demi satu aksara yang memagut kokoh membentuk formasi-formasi kuat untuk menampar hati para peniti makna
aku pun lupa caranya menyulap satu demi satu perih dan tawa menjadi hujan verbal yang terperangkap dalam getaran dunia maya

kubiarkan semuanya menggelembung menjadi roh-roh hidup dalam tubuhku
mengendap seperti robot-robot di stepford
isi kepalaku menyublim menjadi angin yang sekedar menggoyangkan ilalang
lupa pula caranya mengetuk pintu jantung malam berbintang

wahai carut marut yang selama ini kupeluk
kemana dirimu di tengah dunia yang kian kusut?

Labels: , , , , , , , ,

Friday, April 18, 2008

we are lost

we are lost
we are nothing
we are dreadful piece of junk in the valley of diamond
we are a chunk of rotten flesh, not even appealing for a dirty slum dog
we are drowned in a substance of love, the love no one has ever given but ourselves
we are lost
we are nothing
just a little drop of salty tear
in the myriad lucid dreams in a desert storm
we are lost
we are nothing
not even worthed to think and exist
like the beast in a mysty chimerical delussion

Labels: , , ,

Friday, January 11, 2008

Memakan Senja

Dia berlari tanpa akhir, senja sedang mengejarnya. Senja ini tidak menusukkan cahaya yang panas, melainkan menyabik-nyabik kulitmu dengan dinginnya es yang menusuk. Lalu dia berlari ke lembah-lembah, gunung-gunung, sungai-sungai dan laut-laut. Bersembunyi di balik setiap gedung pencakar langit, pohon-pohon tertinggi, dan gerhana-gerhana yang lari ke sana kemari.

Kemanapun lelaki yang buta sebelah itu pergi, senja selalu mengejarnya. Senja selalu berada di Utara, dan kemanapun dia berlari, tetap ada di utara. Lelaki setengah buta itu berangan-angan seandainya saja dia bisa melenyapkan sang senja. Berharap senja tenggelam dan ia pun dapat diselamatkan bulan. Lelah lelaki setengah buta itu berlari dan hampir habis kulitnya tercabik-cabik dingin es.

Lelaki buta mendapatkan sebuah ide, mungkin kalau ia mengubur dirinya hidup-hidup, ia akan aman. Ia menyadari bahwa sedikit lagi matanya akan buta total. Pandangannya mulai kabur, menyisakan bias abu-abu di setiap warna-warni yang ia lihat. Ia tahu sebentar lagi ia hanya akan melihat gelap.

Lalu mulailah dia menggali kuburannya sendiri dengan tangan-tangan yang sudah berlumur darah dan tanpa kuku. Hari demi hari dia harus terus menggali. Dia harus bertahan hidup dari kejaran sang senja yang memang sudah lama mengincarnya untuk dijadikan santapan berikutnya. Sambil bersembunyi dari senja, dia terus menggali, sesekali bersembunyi lagi saat senja mengintip dari sela-sela dedaunan yang tinggi, di bukit bersetan merah itu.

Sedikit lagi ia tidak akan bisa melihat. hanya tinggal titik-titik warna yang bisa dibaca matanya. Senja pun sudah menemukan lelaki nyaris buta itu, dan mulai mencabik-cabik kulit punggung dan bokongnya. Tapi karena sedikit lagi lubang persembunyian itu cukup besar untuk menenggelamkan dirinya ke dalam tanah, maka rasaperih cabikkan-cabikkan itu ia abaikan.

Lalu lelaki itu membiarkan dirinya tenggelam dan terbenam di dalam lubang penuh cacing, ular, dan kalajengking. Membiarkan dirinya membusuk bersama tanah. Namun satu hal tertinggal di luar sana, yaitu bola matanya yang nyaris buta. Tubuh tetap menjadi tubuh yang busuk di balik tanah, tetapi mata masih bisa melihat walaupun sedikit. Ia bersembunyi di balik belantara visual yang diciptakan warna warni khayal dan mimpi, sisa-sisa apa yang ia pelajari dari wujud seorang manusia. Dan kala lapar, bola mata menjelma senja yang siap mencari mangsa, siapa saja, namun terutama yang buta. Mencabik-cabiknya dengan cahaya dingin yang perih. Melumpuhkannya pelan-pelan sampai lemah dan mengubur diri sendiri, dan memperbanyak senja-senja berikutnya... sampai tiba saatnya mereka saling memakan satu sama lain ketika tak ditemukan lagi laki-laki setengah buta yang sedang melarikan diri dari kejaran cahaya.

Labels: , , ,

Wednesday, January 09, 2008

Ketika aku berusaha memetakan kalian dalam sebuah peta pikiran

Aku temukan cabang-cabang yang tidak henti-hentinya bergerak, bersenandung, berlari-larian. Seperti matahari yang selalu terpaku pada senja dan manusia-manusia yang selalu terkekang dalam tangis. Dia bermain-main dalam segala warna yang bisa diciptakannya. dan aku kehilangan seni merangkai kata-kata dan lupa akan indahnya proses kreatif mencipta angan bagaikan tuhan. Aku terlalu sibuk memetakan kalian.

Lalu aku katakan dengan sangat menyesal, aku lelah membaca dan berpikir, hidup bersama arus sepetinya lebih indah. Tiada lagi robekkan-robekkan luka yang kubuat sendiri di tubuhku.

Lalu kau katakan dengan tersenyum, akankah kau merasa hidup bersama arus? tidakkah kau hanya akan menjadi sebongkah kayu yang tiada jelas akan berlabuh di mana?

Aku memang tersesat di tengah-tengah ketidak tahuanku. Mersembunyi di balik semak-semak yang pura-pura tidak tahu apa-apa, seperti aku. Maka demikianlah aku semakin tersesat, bersama dengan kalian-kalian yang mengukir nama di kehidupanku. Beberapa mengukirnya di tanganku, beberapa mengukirnya di mataku, beberapa mengukirnya di hatiku. Tapi kurasa, banyak yang tersesat ke liang vagina, terjerembab lalu bingung bagaimana caranya keluar dari lubang harum itu. Maka mereka pun mengukir namanya di sana ketika mengawang-awang bersama harum yang memabukkan.

Aku hanya ingin membuat sebuah peta di pikiranku, agar kelak aku dapat membaca kalian tanpa harus tersesat. kelak aku akan tahu di mana kalian bersarang di tubuhku.

Kemudian datanglah engkau seorang mayat berjalan. tatapanmu yang biru dan kulitmu yang menghijau bisa-bisanya memberiku kekaguman. Membuatku ingin menjadi mayat juga di taman-taman yang pernah dicita-citakan padaku sewaktu kecil. Saat Upik Abu masih menjadi Cinderella si putri bangsawan dengan bibir bergincu, dan Ibu Tiri masih seorang perawan pemalu.

Memuakkan, pemetaan-pemetaan yang malah akan menyesatkan.
Betapa aku rindu ketersesatan dalam belantara kesadaran... ketika aku masih bisa mendengar Descartes perlahan-lahan berbisik di telingaku yang naif: cogito ergo sum, Thera... Ditimpa dengan jeritan yang begitu mengerikan namun menyenangkan: Carpe Diem...
Karena bagiku momento mori terkadang seperti delusi...

Labels: , , , ,

Wednesday, December 12, 2007

Ha.Ha.

Kau lucu sekali... Kau sangka semudah itukah aku?
Nyatanya semua pikiran yang diciptakan manusia adalah indah kala kulihat dengan kaca mata yang aku kenakan
Aku percaya kaca mata ini dapat mengukir kedamaian
Ah, seandainya saja semua orang seperti aku
Berakhirlah semua perdebatan-perdebatan omong kosong
Seperti botol wine kosong bertabrakan dengan tong

Bunyinya mengagetkanku, menyadarkanku bahwa ternyata aku berdiri cukup tegak
Ternyata gubug derita yang kubangun berdiri cukup kokoh

Labels: , , , ,

Tuesday, December 11, 2007

Mengikat Sepatuku

Ibuku mengajarkan aku cara mengikat tali sepatu seperti mengikat dua kuping kelinci secara bersamaan. Tapi, mayoritas dari teman-temanku lebih suka mengikat tali sepatu seperti membiarkan seekor tupai lari mengitari sebatang pohon kecil. Mereka berdebat tentang cara mengikat sepatu yang paling benar, paling nyaman, dan paling mudah. Buatku, dua-duanya sama saja.

Tetapi kemudian aku menemukan cara mengikat tali sepatu yang lebih kreatif. Kumainkan tali sepatu seperti aku membiarkan tupai lari mengejar kelinci di bawah pohon kurus, lalu pohon tersebut tertiup angin hingga ranting-rantingnya kusut dan saling mengikat. Sementara kelinci dan tupai? Mereka piknik dan saling berbagi wortel serta kenari. Ibu dan teman-temanku tidak suka melihat caraku mengikat sepatu, menurut mereka caraku mengikat sepatu adalah penyimpangan dari cara-cara yang lebih benar. Aku tidak peduli, menurutku, tali sepatuku tampak lebih indah dan lebih sulit dilepas sekalipun aku terantuk batu. Aku sering dipandang sebagai anak aneh karena caraku mengikat sepatu, dan ibu serta teman-temanku masih saja mengeluh tentang caraku mengikat sepatu.

Ya, apa peduliku? Mereka bebas mengikat sepatunya dengan cara yang mereka mau. Itu sepatu mereka dan kaki mereka. Ini sepatuku dan ini kakiku. Cara seperti inilah yang paling cocok denganku, dan aku merasa sangat nyaman dengan caraku mengikat sepatuku. Apapun caranya dalam mengikat sepatu, tokh tujuannya tetap sama: mengikat tali sepatu agar tidak terlepas, terinjak, dan tersandung.

Labels: , , ,