Saturday, July 14, 2007

mari...

mari, mari...
terisaklah
menjeritkah
biarkan saja dia mendengar
ledakkan-ledakkan waktu ini sungguh tak tertahankan
kau menamparku kembali dengan sapuan-sapuan hijan yang tak kasat mata
sehingga dinginmu menusukku
sehingga hangatmu memelukku

mari...
berpelukanlah
datang dan rasakan nyeri membiru
karena abu-abu tercantik sudah menyatu bersama kekal
dan sisa-sisa bola yang padam terasing di sudut sebuah ruang

aku tidak membutuhkan waktu
yang kubutuhkan hanyalah sepercik ruang kosong
dimana aku dapat tenang
dan terdiam

mari...
lenyapkan kupu-kupu itu
cukup kita pandangi kunang-kunang yang mulai kehilangan cahayanya
karena di ruang ini sesaat lagi aku akan menghilang

Labels:

1 Comments:

Anonymous Ervin Ruhlelana said...

seperti shubuh... ruh-ruh menjauh... menabuh teduh...

seperti pagi... para peri menari... menenun wangi...

seperti siang... parang menebas terang... menampar karang...

seperti senja... mengantarkan siasat duka... kupelihara seperti cara kata mengurung doa...

seperti malam... menyambar kelam... membunuh padam...

seperti kau... mengulum galau... merangkai kalau...

seperti aku... beku... bisu... batu...

dan menjadi besarlah kita... dalam sabda sinis... dalam hantu-hantu... dalam ditorsi... dalam sekepal rayuan yang membuai...

kusudahi atau kuakhiri?
kausudahi atau kauakhiri?
atau kita, menyudahi dan mengakhiri?
jangan dulu pergi, biar aku saja yang pergi...
THERA-HEART-EARTH
biar kukelilingi ketiga hal ini... agar mati tak seperti api.
kau tak mati sebab belum
aku tak mati sebab belum

(UNTIE - UNITE - UNTIE - UNITE - UNTIE)

Sunday, July 15, 2007  

Post a Comment

<< Home