Tuesday, March 27, 2007

Marie Antoinette (2006): Revolusi Karya Klasik

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Suatu hari di sebuah pelatihan sinema di fakultas ilmu budaya di universitas negri paling bergengsi di Depok, seorang dosen bergelar master dalam bidang susastra yang menjadi pembicara berkata "tidak termaafkan ketika dalam film bersetting abad 18 tapi terdapat jam tangan modern". Lalu pikiran saya beralih pada film yang disutradarai oleh Sophia Coppolla ini. "Bukankah semua itu bila dilakukan dengan sengaja oleh sutradara pasti sang sutradara ingin menunjukkan hal tertentu? Bukankah pasti ada makna yang ingin disampaikan?" sanggah saya kepada dosen dari jurusan perancis tersebut. Cukup mengagetkan bagi forum diskusi, karena saya satu-satunya mahasiswa S1 yang mengikuti pelatihan (Yang lain minimal mahasiswa S2 dan dosen-dosen dari universitas lain) dan akhirnya mengajukan pertanyaan kritis pertama dalam forum (Sebelumnya pertanyaan-pertanyaan yang muncul hanya sebatas teknis 'membaca' sebuah film. Huh bosan! You can get it simply by reading cinematrography and film studies book) lalu saya memberikan contoh film ini untuk mendukung argumen "Dalam Marie Antoinette yang bersetting pra revolusi Perancis, musik pengiring yang digunakan Coppola adalah musik pop alternatif masa kini. Tulisan di posternya saja sudah memakai font nyentrik, dan bila jeli, anda bisa menemukan sebuah sepatu sneakers berada di sela-sela sepatu-sepatu vintage pada masa itu. Malah kalau saya tidak salah, rasanya saya melihat handphone. memang sih, hanya satu atau dua detik disorot kamera. Tapi saya yakin itu bukan karena kelalaian sutradara, tetapi karena apa yang ingin ditekankan oleh sutradara adalah bahwa sesungguhnya Marie Antoinette masih ABG yang spirit hidupnya sama seperti ABG masa kini. Hal yang sama juga terjadi pada film Iron Jawed Angels yang saya lupa sutradaranya siapa." Dosen tersebut membenarkan saya, dan menambahkan "Ya, kesengajaan-kesengajaan tersebut juga menekankan bahwa film Marie Antoinette , meskipun berdasarkan tokoh sejarah, tetap sebuah karya fiksi". Sepertinya sedikit berlawanan dengan pernyataan dia sebelumnya, bukan? Saya hanya memaklumi, jurusan Perancis memang terkenal sangat setia dengan isu-isu konservatif dalam sastra, berbeda dengan jurusan Inggris yang akrab bergumul dengan postmodernisme dan isu-isu kontemporer sastra.

Kejeniusan Copolla dalam setiap karyanya adalah bagaimana ia menyembunyikan adegan-adegan penting dan menyajikan adegan-adegan yang tidak penting. Ingat Lost in Translation? Menontonnya membuat anda terus bertanya-tanya tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada diri tokoh utama dalam kesendiriannya di sebuah negara asing. Tidak ada voice over narration yang benar-benar mantap mengungkapkan isi hati mereka, yang ada hanyalah gambaran-gambaran suasana. Lewat Marie Antoinette juga, Copolla memaksimalkan kekuatan visual dan simbolisasi untuk menyampaikan makna pada 'pembaca' film.

Copolla juga berhasil meruntuhkan pakem-pakem yang berlaku dalam membuat sebuah film berdasarkan sejarah atau bersetting klasik (yang serta merta sering disebut film sejarah atau klasik). Tidak sering kita melihat pewarnaan film yang "kinclong" di film-film bersetting klasik, biasanya film (bersetting) klasik bermain-main dengan warna-warna redup dan nyaris sephia untuk membangun nuansa vintage lewat pewarnaan. Sama seperti pilihan musik yang "nyentrik", Copolla juga nekad bermain-main dengan editing yang relatif 'cepat' untuk film drama. Menontonnya mengingatkan saya pada film-film chick-flick yang dibintangi Reese Witherspoon. Mungkin memang itulah yang sengaja ingin ditampilkan oleh Copolla, semangat ABG dalam diri seorang tokoh dalam sejarah Marie Antoinette, sekedar mengingatkan bahwa dosa-dosa yang dilakukan Marie Antoinette semata-mata karena karakter naif yang selayaknya dimiliki seorang anak ABG.

Jangan harap anda bisa menemukan informasi-informasi yang anda inginkan tentang revolusi Perancis lewat film ini. Tidak ada adegan keluarga kerajaan dieksekusi, yang ada adalah permasalahan Marie Antoinette berusaha adaptasi dengan rumah barunya, pergaulan sosialnya di istana Versailles, dan masalah ranjang antara Marie Antoinette dan Henry VI. Jangan dulu kecewa dan melabeli karya ini sebagai film sejarah yang gagal. Karena, bila anda mencari fakta sejarah lebih baik anda ke perpustakaan dan membaca buku-buku tentang revolusi perancis. Bila anda ingin melihat sebuah karya tentang permasalahan psikologis seorang anak ABG yang harus memenuhi kewajibannya sebagai ratu, silahkan mencari DVD ini (theramehta)

Nilai: 8 (Skala 1-10)

Labels:

6 Comments:

Anonymous p0p p0p said...

arghhhhh...aku suka sama film ini...seluruh hiruk pikuk sopan santunnya kubrick sekali....

Wednesday, March 28, 2007  
Anonymous p0p p0p said...

i paling suka adegan penobatan raja, ostnya dunks....hanyo ada yg tahu gak ?

Wednesday, March 28, 2007  
Anonymous maria ardiana said...

taaaaaaaauuuuuu THE CURE - PLAINSONG hahahhaa...love it a lot!!! aku paling suka scene waktu marie dgn pose 'ratu'nya cuma ditutup sebuah kipas....ahh kereeen!!!

Wednesday, March 28, 2007  
Anonymous Thera Paramehta said...

eh masa, kata temen gue di poster ini si kristen dunst mirip sama gue! perhatiin deehh! mirip yaaa! hueahuehaueha (ngarep)

Friday, April 06, 2007  
Anonymous elsara elsara said...

converse! ya ya.. ada converse nyelip. :p

Friday, April 04, 2008  
Anonymous rositarini rositarini said...

Nice Reviews...

Friday, March 20, 2009  

Post a Comment

<< Home